Legenda Lawak Indonesia Lahir Kembali

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! merupakan sebuah film komedi sekaligus suatu remake dari film Warkop DKI yang pernah diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro pada era 1980-an. Film ini bercerita mengenai Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) yang tergabung dalam satuan CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial) yang bertugas untuk mengayomi masyarakat. Suatu ketika mereka mendapat mandat untuk memberantas begal di daerah ibukota. Namun, karena kekonyolan yang mereka miliki, mereka justru mendapatkan masalah yang berujung di pengadilan. Tiga legenda lawak Indonesia tersebut harus membayar sejumlah denda. Hal tersebut membuat geram Boss CHIPS yang kemudian akan memecat mereka apabila denda tersebut tidak dapat dipenuhi. Di lain sisi, Indro yang diperankan oleh Tora Sudiro selalu dihantui oleh Indro Warkop dalam setiap adegannya. Dalam film ini, Indro Warkop berperan sebagai Katy Perry, Jin dan Malaikat, hingga Minions. Selain itu, film ini juga diwarnai oleh bintang film Indonesia seperti Agus Kuncoro, Nikita Mirzani, Ence Bagus, Hannah Al Rashid, Arie Kriting, Temon, Ge Pamungkas, Mongol Stres, Fico Fachriza, dan lain-lain.Dunia perfilman Indonesia kembali menunjukkan eksistensinya. Setelah merilis beberapa film fenomenal setidaknya dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, seperti: Ayat-ayat Cinta; Laskar Pelangi; 5cm; Ada Apa Dengan Cinta 2; dsb, kali ini dunia perfilman Indonesia mencoba untuk kembali melahirkan legenda lawak mereka yang tergabung dalam Warkop DKI (Dono-Kasino-Indro). Anggy Umbara bersama Falcon Pictures berusaha merealisasikannya dengan memproduksi film “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!”.

Hal yang menarik dari film ini yaitu selain menyuguhkan lawakan-lawakan khas Warkop DKI, film ini juga menyisipkan berbagai sindiran yang bersifat membangun. Baik itu untuk pemerintah maupun masyarakat. Ditunjukkan pada bagian awal film, Indro Warkop yang berperan sebagai reporter Dunia Dalam Berita membacakan berita-berita mengenai politik, ekonomi, dan sosial. Berita yang dibacakan cukup “menggelitik” dengan menyisipkan realita-realita yang terjadi pada pemerintahan Indonesia saat ini. Kemudian, pada bagian awal film juga ditampilkan video transisi yang menggambarkan “hiruk-pikuk” Jakarta yang sekaligus merupakan refleksi masyarakat, khususnya bagi warga ibukota.

Namun, film ini harus berhati-hati pada posisi dan peran perempuan. Hal yang sering terjadi pada setiap lawakan Warkop DKI ialah kerap kali menjadikan perempuan sebagai objek komedi. Terlebih memvisualisasikannya secara fisik. Dalam konteks 1980-an, mungkin hal ini masih bisa diterima oleh masyarakat. Namun, melihat perkembangan peradaban masyarakat (khususnya kehidupan beragama) di Indonesia, film komedi Indonesia saat ini perlu menyesuaikan dan lebih cermat. Terlebih pada hal-hal yang berbau gender. Harapannya adalah film Warkop DKI Reborn pada part-part berikutnya dapat diterima dan dinikmati oleh seluruh segmen masyarakat di Indonesia.

~ Maju terus film Indonesia!

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
Silakan masukkan jawaban pada kotak yang telah disediakan
12 + 7 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.