Menguak dan Mengupas Rating Televisi

Judul Buku      : Matinya Rating Televisi (Ilusi Sebuah Netralitas)

Penulis             : TM. Dhani Iqbal Erica dan L. Panjaitan

Penerbit           : Yayasan Obor Indonesia

Tahun Terbit    : Maret 2006

Tebal               : 126 Halaman

Buku yang terbit pada tahun 2006 ini menyajikan beberapa ulasan mengenai masalah Rating Televisi Di Indonesia. Diawali dengan sejarah singkat hadirnya stasiun televisi pertama (TVRI) pada masa Presiden Soekarno yang berisi propaganda dan alat politik kemudian dilanjutkan dengan keadaan televisi pada masa kejayaan Presiden Soeharto yang seolah-olah menjadi perpanjangan tangan dari kekuasan politiknya. TVRI menganggap bahwa penonton adalah pasif. Keragaman menghilang, tidak ada rasangsangan atau iklim kompetisi karena penonton tidak lagi menjadi focus utama.

Fungsi lembaga penyiaran publik yang semestinya berorientasi pada pelayanan publik menjadi terabaikan. Masyarakat yang jenuh kemudian banyak menuai protes yang kemudian banyak muncul stasiun televisi swasta di Indonesia seperti RCTI, SCTV, TPI, Lativi, Trans TV, ANTV, Metro TV dan GTV yang disiarkan melalui Saluran Siaran Umum (Umum). Kehadiran stasiun tv swasta ini sontak membuat kehidupan dunia tv tak lagi sederhana. Televisi yang semula berlaku hanya sebagai institusi sosial dan hanya berkutat pada pemahaman bagaimana mempengaruhi masyarakat secara politis kini dihadapkan sebagai institusi bisnis yang harus berpikir bagaimana mendapatkan keuntungan. Sebagai pebisnis, para pelaku dari dunia non-pers ini memandang pers sebagai peluang usaha atau sarana pembentukan citra yang baik lewat media yang mereka control atau pengaruhi. Selain itu, apabila TVRI tidak peduli pada siapa yang menonton, tv swasta benar-benar memperhatikan siapa yang menonton karena darisitulah mereka bisa mendapatkan keutungan dari perusahaan yang ingin beriklan.

Penting bagi stasiun-stasiun TV swasta tersebut membuat peta tentang siapa dan bagaimana khalayak pemirsa yang hendak dirangkulnya. Sebab dengan mengetahui siapa yang akan dijadikan sasaran, pihak stasiun televisi dapat merancang suatu program yang relevan dengan target sasaran. Akan tetapi masalahnya adalah dalam komunikasi massa apalagi dengan SSU akan sangat sulit untuk mengetahui siapa , berapa, dan bagaimana reaksi penonton terhadap program acara yang ada. Padahal konon perusahaan hanya mau mengiklankan atau cenderung beriklan pada stasiun tv yang memiliki banyak jumlah penonton. Kemudian melaui lembaga riset Internasional Nielson Media Research (NMR), menunjukan bahwa penonton cenderung melihat acara degan genre-genre tertentu.

Program acara yang memiliki rating tinggi akan dipertahankan dan yang memiliki rating kecil akan diganti dengan cara menduplikasi dan meniru tayangan yang dirasa memiliki rating tinggi karena mereka meyakini bahwa ppengiklan hanya mau mengiklankan apabila tv tersebut memiliki program acara dengan rating tinggi.

 Hal inilah yang kemudian membuat program-program di televisi tidak menjadikan kualitas sebagai acuan utama melainkan lebih mengedepankan kuantitas. Padahal apabila dilihat dari perspektif yang lain yang juga dikemukakan oleh tokoh-tokoh dalam buku ini bahwa daripada mendasarkan suatu program pada suatu rating, sebagian yang lain memilih untuk menyesuaikan program acara dengan karaktek produk yang akan diiklankan.

Logikanya saat mereka menampilkan suatu tayangan yang berkualitas dan edukatif tentunya yang akan memonton juga orang-orang terpelajar dan bukan hanya mengikuti selera pasar karena karakteristik produk dari pengiklan akan berbeda.

Buku ini juga membahas bagaimana riset khalayak dilakukan. Riset khalayak televisi atau Television Audience Measurement (TAM) adalah riset kualitatif yang berupaya mengukur berapa banyak dan dari kelas sosial  ekonomi mana orang yang menonton saluran tertentu, program tertentu, dan pada waktu kapan. Riset ini dilakukan dengan berbagai metode dan survey.

Rating kemudian dibahas secara lebih lanjut. Rating, selain menjadi indicator tentang berapa dan dari kalangan sosial mana penonton program sebuah program acara, juga berfungsi sebagai peta posisi sebuah acara yang menentukan layak tidaknya suatu program acara untuk terus ditayangkan. Rating tentunya bukan sebuah ilmu yang datang begitu saja. Ia muncul karena adanya perilaku memilih dari para penonton terhadap sebuah acara dan adanya peran teknologi didalamnya. Ada banyak metode yang dipertentangkan didalamnya. Ada banyak cara untuk memainkan angka-angka demi mencapai tujuan. Dan dapat dikatakan bahwa rating bukanlah satu-satunya pedoman yang dapat diagung-agungkan dalam sebuah stasiun televisi. Rating kini tampak tak lebih dari sebuah konstruksi pikiran. Ia bukanlah sesuatu yang melekat pada kenyataan dan tidak netral.

Menurut saya, buku ini mampu menguak dan mengupas rating secara gamblang bahwa rating bukanlah sesuatu yang menentukan tertarik atau tidaknya sebuah perusahaan iklan, banyak atau tidaknya jumlah penonton. Karena pada akhirnya masyarakat yang kritis dan terpelajar yang lebih melek informasi akan menentukan rating sesungguhnya.

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
Silakan masukkan jawaban pada kotak yang telah disediakan
9 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.