Sang Penguasa Kehidupan Masyarakat itu Adalah Media

Judul Buku      : Rezim Media

Penulis             : Iswandi Syahputra

ISBN               : 978-979-22-9347-0

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit    : Maret 2013

Tebal               : 224 halaman

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rezim adalah pemerintahan yang berkuasa. Jadi, rezim media berarti media yang menjadi penguasa atau memiliki kendali besar dalam kehidupan masyarakat sebuah negara. Namun, kekuasaan disini bermakna cenderung negatif, yaitu kekuasaan otoriter. Hal ini dibuktikan dari fenomena-fenomena yang terjadi saat ini, ketika media terutama televisi dapat memberikan pengaruh yang besar kepada masyarakat. Seharusnya jika televisi menjalankan perannya dengan benar, tentu pengaruh yang dihasilkan adalah hal yang baik. Namun faktanya tidak demikian. Televisi tidak bisa menjadi media independen lagi. Motif ekonomi dan politik dari pihak tertentu mengintervensi proses produksi program-program acaranya sehingga konten yang dihasilkan tidak lagi memihak kepentingan publik.

            Peran media, atau secara khusus disini merujuk pada televisi, sebagai salah satu bentuk demokrasi dibahas oleh penulis sebagai pembukaan. Bagaimana televisi yang benar seharusnya dapat menjadi corong suara publik yang kemudian menjadi kontrol bagi pemerintah. Namun, sekali lagi, masalah yang ada adalah tidak adanya netralitas atau independensi di televisi Indonesia. Apa yang dihasilkan media sudah diatur oleh pemiliknya yang notabene adalah pebisnis atau politisi. Masyarakat hanya mampu menerimanya mentah-mentah. Seolah tidak ada celah untuk memberi timbal balik.  Padahal dalam buku ini dikatakan bahwa media massa yang tidak demokratis sama berbahanya dengan rezim yang tiran.

            Beralih dari masalah seberapa kuat rezim media, penulis dalam bab-bab berikutnya memaparkan tentang berbagai penyimpangan yang terjadi di televisi. Secara umum, ada disebutkan seven deadly sins yang dikutip dari seorang jurnalis dan ahli sejarah Amerika. Ketujuh dosa yang mematikan tersebut adalah distorsi informasi, dramatisasi fakta palsu, mengganggu privasi, pembunuhan karakter, eksploitasi seks, mearcuni benak/pikiran anak, dan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Kesalahan lain yang ada di televisi Indonesia adalah fenomena duplikasi, meniru program acara yang sebelumnya sudah ada. Baik itu berupa saduran acara dari luar negeri atau bagaimana stasiun televisi berlomba-lomba memproduksi acara berformat sama dengan acara dari stasiun televisi lain yang dianggap sukses serta memberi keuntungan besar. Sebagai contoh, ketika reality show tentang makhluk gaib mendadak naik pamor, kemudian stasiun-stasiun televisi lain langsung menciptakan acara serupa. Sungguh ironis ketika industri televisi yang seharusnya merupakan industri kreatif justru tidak menunjukkan kreatifitasnya. Dalam buku ini, diberikan daftar rinci program acara apa saja, baik sinetron atau reality show, di Indonesia yang merupakan bentuk dari duplikasi yang terjadi,

            Infotainment juga menjadi topik yang dibicarakan dalam “Rezim Media”. Perdebatan tentang apakah infotainment merupakan karya jurnalistik atau bukan juga dijawab disini. Menurut penulis, infotainment adalah bentuk karya jurnalistik dan dikategorikan sebagai soft news atau soft journalism. Sebab dalam persepsinya, infotainment adalah berita yang berisi berisi hiburan atau informasi ringan, apapun itu. Jadi infotainment disini tidak berarti berita yang berisi gosip-gosip tentang selebriti yang seringkali tidak jelas kebenarannya. Menurut saya ini adalah topik yang menarik mengingat sebelum ini saya lebih banyak mengetahui bahwa infotainment bukanlah karya jurnalistik. Namun, meskipun demikian, infotainment juga tetap beresiko untuk memberi pengaruh buruk pada masyarakat melalui tayangannya yang hiperbolis. Bahasan tentang infotainment mendapat bagian yang cukup banyak pula dalam buku ini.

            Pada bab-bab terakhir, kembali penulis menegaskan tentang kekuasaan yang dipegang oleh media atau televisi. Bagaimana media mengalami politisasi dan komersialisasi dan tidak dapat menjalankan perannya yang sesungguhnya. Dan kemudian publik lah yang dianggap sebagai agen sosial dan strukturasi media. Topik-topik yang dibicarakan dalam buku “Rezim Media” merupakan masalah umum yang terjadi dan sudah banyak dibicarakan juga sebelumnya. Hal ini dapat berarti positif dan negatif. Positif karena berarti ada lagi buku bermutu yang dapat menambah dan memberikan pengetahuan lebih mengenai masalah yang terjadi di televisi Indonesia. Namun, menjadi negatif karena dapat dianggap sebagai buku yang biasa-biasa saja dan membosankan karean topik yang dibahas bukanlah hal yang baru. Kemudian, jika diperhatikan, di halaman 55, tabel yang menyebutkan judul-judul sinetron Indonesia adaptasi dari luar negeri, diambil dari internet. Terlebih lagi, sumber tersebut adalah id.wikipedia.org yang merupakan hasil tulisan dari banyak orang yang sudah jelas tidak ilmiah. Seharusnya sumber semacam ini tidak digunakan dalam buku ilmiah seperti “Rezim Media” sebab menjadi terlihat meragukan. Selain itu, kekurangan dari buku ini adalah terlalu berbelit-belit dalam penjelasannya. Setiap topik ditulis sangat panjang dan tidak terfokus. Sehingga sulit untuk langsung menemukan jawaban dari permasalahan yang dibahas.

            Terlepas dari kekurangan yang ada di buku ini, “Rezim Media” mampu memberikan pencerahan baru tentang permasalahan di televisi Indonesia yang memang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Secara keseluruhan isi buku ini menarik dan komprehensif. Fakta-fakta yang sudah terjadi diangkat dengan baik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami. Sesuai untuk menjadi rekomendasi bacaan mahasiswa ilmu komunikasi khususnya yang suatu hari hendak terjun ke dunia televisi sehingga mendapatkan pelajaran agar bisa menjadi pioneer untuk mengembalikan peran televisi yang memihak kepnetingan public

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
Silakan masukkan jawaban pada kotak yang telah disediakan
6 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.