Teori dan Riset Media Siber ( CYbermedia)

Judul Buku :Media Siber (Cybermedia)

Penulis : Dr. Rulli Nasrullah, M.Si.

ISBN :6027985712

Tanggal Terbit:2014

Penerbit : Kakilangit Kencana

Teknologi pada dasrnya memiliki kontribusi dalam menciptakan keberagaman media.Dari sisi industri, biaya produksi media dan tentu saja alat produksi yang semakinmurah serta canggih menyebabkan kemunculoan media secara massa.Dewasa ini khalayak tidak lagi sekedar objek yang terpapar oleh informasi, tetapi khalayak telah dilibatkan lebih aktif karena teknologi menyebabkan interaksi di media bisa terjadi. Adanya internet membuat khalayak bisa mengakses informasi yang dibutuhkan kapanpun dan tentu saja melalui perangkat apapun. Rogers berpendapat terdapat 4 fase yang secara langsung maupun tidak berpengaruh  pada kemunculan media komunikasi itu sendiri, 4 fase tersebut yaitu masa komunikasi melalui media tulisan (The Writing Era), masa media komunikasi cetak ( The Printing Era), era komunikasi yang sudah memanfaatkan teknologi walaupun masih sederhana(Telecommunication Era), dan masa di mana media menjadi lebih interaktif dari sebelumnya(Interction Communication Era).

McLuhan membagi periodisasi perkembangan komunikasi menjadi 4 bagian, yaitu Tribal Age, Literate Age, Print Age, and Electronic Age. Periode pertama komunikasi terjadi di mana mendengar, bersentuhan, merasa, dan membaui lebih dominan dibandingkan indra pengelihatan. Periode selanjutnya lebih mengutamakan aspek visualisasi. Pada periode The Print Age dianggap sebagai prototipe dari revolusi industri. Electronic Age  diwakili oleh munculnya komunikasi melalui kabel dengan bunyi panjang-pendek atau telegraf sederhana.

Digital media, media online, e-media dan cyber media adalah beberapa sebutan yang menggambarkan istilah media baru. Namun pada intinya meksud dari media baru adalah perangkat media baik itu perangkat keras(hardware) maupun perangkat lunak(software). Perubahan teknologi media serta pemaknaan terhadap medium telah memperbaharui peran khalayak untuk menjadi lebih interaktif terhadap pesan itu.

Media memberikan  kemudahan akses  warga dalam membuat akun situs jejaring sosial, web-blog, hingga membuat situs sendiri pada kenyataanya menambah sumber untuk memproduksi dan mendistribusikan media. Pemilihan topik berita bisa dilakukan  lebih cepat dan lebih banyak perspektif. Melalui internet warga juga bisa mengumpulkan dan memilah perspektif berita yang ingin dibaca sekaligus bisa terlibat dalam merekonstruksi peristiwa yang dipublikasikan dalam jurnalisme warga. Kehadiran media baru ini memberikan alternatif bagi warga.

Ada dua faktor yang mempengaruhi media, yakni: faktor internal (karakteristik individu pekerja media dan rutinitas yang berlangsung dalam organisasi media) dan faktor eksternal ( variabel ekstramedia dan ideologi yang mempengaruhi isi media. Media massa melakukan proses seleksi dan interpretasi, dan informasi yang disampaikan kepada publik. Jika kebijakan media menganggap penting, maka akan ada penekanan, penonjolan, argumentasi yang lebih dalam pemberitaan suatu peristiwa.

Di media digital struktur redaksional menjadi hilang. Jurnalisme warga memungkinkan satu warga membuat sekaligus memproduksi dan mendistribusikan peristiwa sesuai keinginannya. Tidak ada nilai dan aturan yang membentuk warga dalam  memilah dan memilih peristiwa yang akan dipublikasikan. Media tradisonal menempatkan khalayak dalam posisi pasif dan  tidak memiliki  kebebasan untuk memproduksi informasi. Namun di media digital khalayak memiliki otoritas dalam membangun teks serta medium. Selain itu media digital juga memberikan keleluasaan khalayak untuk mentrasformasikan dirinya untuk memanfaatkan khalayak  lainya. Khalayak dapat memproduksi berita secara bebas dan tanpa adanya pertarungan kepentingan.

Internet pada dasarnya merupakan medium yang memungkinkan keterlibatan pengguna(user) dalam berinteraksi. Menurut Habermas anggota dalam forum memiliki kesadaran berpartisipasi dalam diskusi atau debat. Sementara di grup diskusi daring setiap pengguna tidak dapat dipastikan apakah keberadaanya memiliki makna atau tidak. White & le Cornu membagi pengguna internet sebagai pengunjung(visito)dan penetap(residents). Pengunjung hanya menyambangi situs-situs tertentu karena dilandai minat mereka, tergantung kemauan pengguna, dan tidak pernah meninggalkan jejak keberadaaan di situs itu. Sementara penetap dengan sadar menghabiskan waktu dan melakukan interaksi sosial di situs tersebut.

Internet tidak sepenuhnya bisa dikatakan sebagai ruang publik. Ada posisi di mana pengguna sebagai anggota tidak terlibat dalam diskusi atau debat terhadap topik yang sedang dibicarakan.  Namun internet membuka peluang bagi distribusi informasi  yang tidak hanya bersifat alternatif, tetapi juga lebih berimbang, dan apa adanya. Teknologi komunikasi pada dasarnya memberikan kemudahan bagi siapapun yang menggunakan teknologi untuk saling berinteraksi, saling terhubung dalam waktu yang bersamaan bahkan dapat mewakili kehadiran atau keterlibatan fisik dalam berkomunikasi. Konsep kerja teknologi media baru telah membawa pengaburan(transendence) nterhadap batasan-batasan fisik dan sosial.

Di internet komunikasi yang terjadi kebanyakan memakai teks, hal ini memengaruhi bagaimana seseorang mengkomunikasikan indentitas dirinya. Dalam interaksi tatap muka seseorang akan memahami gambaran identitas diri orang lain memalui gender, ras, pakaian dan karakteristik nonverbal lainya. Namun beberapa karakteristik ini sangat sulit untuk muncul dalam interaksi virtual, teknologi internet menawarkan fasilitas untuk menyembunyikan beberpa petunjuk atau karakteristik tertentu yang tidak ingin ditampilkan dan diketahui oleh publik.

Dalam komunitas dunia nyata individu memiliki model mental yang sama atau adanya kesepahaman dengan apa yang disebut dengan tempat. Akan tetapi di komunitas virtual diperlukan adanya imajinasi dari setiap individu terkait dengan tempat ini. Komunitas virtual bisa dibedakan menjadi dua jenis. Pertama karena termediasi komputer, anggotanya bertemu dan berkomunikasi untuk pertama kalinya memalui media digital. Kedua merupakan penjelmaan komunitas dunia nyata. Komunitas ini menggunakan media digital untuk melanjutkan laju komunikasinya di dunia nyata. Namun patut menjadi catatan penting, apa yang disebut sebagai komunitas virtual yaitu sebagaimana adanya komunitas yang hadir secara fisik di tengah-tengah masyarakat, hanya saja ia mengambil mediun di media digital.

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
Silakan masukkan jawaban pada kotak yang telah disediakan
14 + 3 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.